dewasa ini dizaman yang serba modern dengan berkembangnya sarana prasarana elektronika tidak lagi memandang BBM sebagai kebutuhan sekunder namun menjadi kebutuhan sekuler yang signifikan bagi perkembangan perekonomian dan kelancaran kehidupan manusia yang serba tergentung dengan kendaraan elektronika buatan eropa yang mengakibatkan pentingnya BBM bagi kehidupan manusia abad modern sekarang.
“Pemerintah berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada bulan juni mendatang…..”.
Kabar tersebutlah yang ahir-ahir ini sempat mengisi media massa baik pers harian maupun dilayar kaca Nasional,Kenaikan harga BBM yang selama ini seringkali menjadi momok bagi perekonomian masyarakat dikarenakan dampak dari naiknya harga BBM akan berdampak pula pada naiknya harga sembako yang notabene menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat.
Alasan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) adalah pemerintah berharap agar kenaikan harga BBM bersubsidi ini akan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang saat ini defisit. Sebab, pemerintah kini mengubah target defisit keuangan negara dari hanya 1,65 persen menjadi 2,48 persen."Kami mengusulkan harga BBM naik per Juni 2013. Tanggal kepastiannya adalah hak prerogatif Presiden," kata Chatib Basri selaku Menteri Keuangan di Gedung DPR (Kompas) Jakarta, Rabu (22/5/2013)
Kebijakan pemerintah dalam rencana menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendapatkan tanggapan yang kurang baik dari masyarakat,terbukti dengan rencana akan dinaikanya harga BBM pada bulan juni, sejarah mencatat setiap kali pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak sedikit dari kalangan civil society baik buruh,pedagang sampai mahasiswa yang turun kejalan demi menolak kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak terhadap rakyat.karena dampak dari naiknya harga BBM akan berimbas pula pada naiknya harga bahan pangan Sembako.
Seringkali memang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dinilai kurang memihak terhadap masyarakat pada umumnya terlebih rakyat kecil,selama masa reformasi bergulir pasca jatuhnya orde baru sampai sekarang pada kepemimpinan president SBY kebijakan pemerintah yang ada sangkutpautnya dengan hal perekonomian yang dinilai benar-benar memihak rakyat (pro-rakyat) mungkin bisa dibilang minim,salah satu penyebabnya Karena memang pemerintah kurang jeli dalam memperhatikan kondisi perekonomian masyarakat.
Rencana pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada bulan juni mendatang akan menjadi kado terpahit bagi masyarakat khususnya bagi bangsa Indonesia ,sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada bulan juni tepatnya tanggal satu adalah momentum bersejarah bagi bangsa kita hari kesaktian pancasila yang seharusnya masyarakat mendapat suntikan nutrisi tentang nilai-nilai Nasionalisme yang kini dirasa mulai kehilangan arah,bukan malah sebaliknya masyarakat dibuat pusing dengan naiknya harga BBM dan disusul dengan harga bahan pokok lainya.
Mengutip kaidah dalam ushul fiqh yang dengan jelas dikemukakakan keharusan seorang pemimpin agar mementingkan kesejahteraan rakyat yang dipimpin,sebagai tugas yang harus dilaksanakan : “Kebijaksanaan dan tindakan imam (pemimpin) harus terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin (tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyah manutun bi al-maslahah)-
wa allahu a’lam
*Penulis adalah kader “PERJUANGAN” Ibnu Aqil.






